Bergembira menuju Ramadhan
Setiap tahunnya, masyarakat Muslimin di seluruh penjuru dunia tentu akan selalu berjumpa dengan sebuah momentum indah yang bernama bulan Ramadhan.

Dalam menyikapi datangnya Ramadhan, ada sebagian kalangan yang begitu gembira dan bersemangat dengan menyongsong kedatangan bulan istimewa yang masyhur dengan sebutan bulan puasa tersebut.
Berbagai macam kebutuhan dan perencanaan untuk menunjang aktivitas selama bulan Ramadhan pun telah dipersiapkannya bahkan sejak jauh hari sebelum bulan Ramadhan itu tiba.
Di antaranya ada yang mulai berlatih dengan melaksanakan puasa sunnah di bulan Sya’ban, dan ada pula yang meningkatkan intensitasnya dalam membaca Al Qur’an.
Baca juga :
Tips menemukan kegembiraan di bulan Ramadhan
Akan tetapi, meski nuansa momentum indah bulan Ramadhan sudah mulai terasa, di sisi lain masih terdapat sebuah ironi yang tidak dapat dipungkiri dengan masih ditemukannya segelintir kalangan di dalam masyarakat yang menganggap atau menyikapi kedatangan bulan Ramadhan itu sebagai momentum yang biasa saja.
Di antaranya, meskipun masih terhitung mau melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, akan tetapi mereka masih belum dapat mengambil sikap yang tepat dalam memuliakan dan memanfaatkan bulan Ramadhan untuk beribadah.
Ada yang mengisi hari demi hari di bulan Ramadhan dengan beraneka game on line dan permainan melalui gadgetnya, ada pula yang gandrung dalam dunia hiburan dan media sosial, atau ada pula yang hanya rebahan, bermalas-malasan dengan banyak tidur di siang hari Ramadhan.
Bagi sebagian kalangan yang tanpa uzur syar’i masih enggan untuk berpuasa di bulan Ramadhan, maka seruan ibadah puasa Ramadhan sesungguhnya hanya diperuntukkan bagi siapa saja yang memiliki akidah dan keimanan di dalam sanubari sebagaimana disebutkan di dalam Al Qur’an.
- Keistimewaan Ramadhan
Bulan Ramadhan adalah momentum yang sangat tepat bagi setiap muslim untuk meningkatkan kuantitas serta kualitas ibadahnya.

Terdapat sebuah momentum emas yang bernama “Lailatul Qadar” yang berada pada sebuah malam di antara 10 malam-malam terakhir menjelang Idul Fitri yang secara eksponensial akan melipatgandakan jumlah pahala dari setiap jenis aktifitas ibadah yang dikerjakan bertepatan pada malam tersebut sebanyak lebih dari 1000 bulan.
Tidak disebutkan secara spesifik di dalam Al Qur’an mengenai berapa angka pasti dari redaksional ayat “lebih baik dari 1000 bulan” itu.
Secara umum “lebih baik dari seribu bulan” bisa saja bermakna 1001 bulan, 2000 bulan, dan seterusnya.
Dalam perhitungan kalender Hijriah, kurun waktu 1000 bulan kira-kira setara dengan kurun waktu 86 tahun. Pada masa kini, sudah jarang ditemui seseorang dapat hidup panjang umur dengan usia mencapai atau bahkan melebihi 80 tahun.
Ramadhan kali ini bisa jadi adalah Ramadhan yang terakhir bagi sebagian orang yang mungkin saja telah ditakdirkan akan habis sisa kuota usianya pada tahun ini, sehingga pada kesempatan Ramadhan tahun berikutnya bisa jadi ia tak dapat bertemu kembali dengan momentum Ramadhan karena telah berada di alam kuburnya.
Sungguh, alangkah beruntungnya siapa saja yang bergembira dengan kedatangan bulan Ramadhan tersebut, dan alangkah meruginya bagi siapa saja yang sengaja menyia-nyiakan momentum istimewa bulan Ramadhan hingga ia terlewatkan begitu saja.
Bagi siapa saja yang telah memiliki bekal ilmu pengetahuan dan wawasan, bulan Ramadhan sesungguhnya merupakan kesempatan terbaik bagi setiap muslim dalam berlomba memperbanyak aktivitas ibadahnya baik yang bersifat wajib maupun yang sunnah dengan tujuan agar dapat memperoleh hadiah yang paling istimewa dari ibadah puasa berupa predikat “Taqwa”.
Karena hanya dengan ketaqwaan lah, jalan kehidupan di dunia niscaya akan semakin mudah dan dipenuhi dengan keberkahan begitu pula dengan kehidupan di akhirat berupa keselamatan, dan kemenangan yang abadi.
Berdasarkan kabar-kabar serta keterangan yang datang dari atas langit, ketaqwaan dan akhlak mulia adalah modal utama bagi setiap muslim untuk dapat meraih keselamatan dan kemenangan yang abadi, berupa surga yang telah dijanjikan dari pencipta Alam semesta.
- Persiapan pra Ramadhan
Di lingkungan Rumah Qur’an Al Badr, terdapat beberapa kegiatan taklim seperti kelas belajar baca Al Qur’an, kelas tahsin dan Tahfidzul Qur’an, kelas pembahasan tafsir Al Qur’an, dan kelas pembelajaran bahasa Arab.

Dokumentasi kegiatan sebagian dari santri usia sekolah di Rumah Qur’an Al Badr Jakarta
Kelas belajar baca Al Qur’an diikuti oleh beberapa kelompok usia, mulai dari kelompok usia anak sekolah, usia dewasa, hingga lanjut usia baik dari kalangan pria maupun wanita dalam kelas atau halaqah belajar yang berbeda-beda.
Kegiatan lainnya, seperti taklim pekanan bahasa Arab ( nahwu & shorof ) serta kajian tafsir Al Qur’an diselenggarakan khusus untuk kelas dewasa Ikhwan.
Dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan, Rumah Qur’an Al Badr mengambil kebijakan untuk meliburkan sementara seluruh kegiatan majelis taklim tersebut hingga beberapa pekan setelah hari raya Idul Fitri.
Diliburkannya segala kelas majelis taklim tersebut, semata-mata untuk memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada masyarakat agar lebih fokus dalam melaksanakan ibadah puasa Ramadhan dan mengisi bulan Ramadhan dengan mempraktikkan ilmu tajwid yang dipelajari selama ini dengan cara praktik membaca Al Qur’an.
Sampai pada beberapa pekan setelah Idul Fitri, masyarakat peserta taklim di Rumah Qur’an Al Badr masih berkesempatan berlibur dalam rangka bersilaturahmi kepada sanak keluarganya masing masing.
Baca juga :
Arsip kegiatan menyambut Ramadhan tahun lalu ( 1446 H )
- Penutupan sementara halaqah majelis ilmu kelas dewasa Ikhwan
Kegiatan penutupan sementara kelas belajar Al Qur’an untuk kelompok usia dewasa bagi pria telah sukses diselenggarakan pada hari Senin, 8 Februari 2026 bertempat di gedung aula Rumah Qur’an Al Badr pada waktu ba’da Isya sampai selesai.

Silaturahmi dan penutupan sementara majelis ilmu kelas Ikhwan dewasa, Februari 2026.

Tausiyah singkat pra Ramadhan bersama ustadz Muhammad Salim. Lc
Acara tersebut dikemas dalam sebuah kegiatan bertema silaturahmi yang diakhiri dengan acara pamungkas makan makan bersama dengan menu tradisional pecak Ikan ala Betawi.
Acara yang dihadiri oleh sekitar 14 orang peserta gabungan dari beberapa halaqah belajar kelas dewasa tersebut berlangsung meriah dan penuh kekeluargaan.
Terselenggaranya acara tersebut merupakan bentuk kolaborasi antara Rumah Qur’an Al Badr bersama dengan bapak Ratim, sebagai koordinator acara yang juga sebagai jama’ah aktif peserta taklim di Rumah Qur’an Al Badr.
Atas prakarsa beliau lah, acara silaturahmi dan penutupan sementara majelis taklim belajar baca Al Qur’an kali ini dapat sukses terlaksana dengan metode pembiayaan urunan, yaitu secara swadaya dan bergotong royong.

Serah terima bingkisan Ramadhan oleh perwakilan peserta majelis ilmu, H. Marsidi kepada guru Al Qur’an, ustadz Muhammad Salim. Lc.
Di penghujung acara tersebut, atas kesepakatan bersama para jama’ah peserta taklim, diselenggarakan sesi serah terima hadiah berupa bingkisan sebagai tanda cinta dan hormat dari para peserta taklim kepada ustadz Muhammad Salim. Lc untuk dedikasi nya mengajarkan ilmu tajwid, tafsir Qur’an, dan bahasa Arab selama ini.

Sebagian dari para peserta majelis ilmu yang berkesempatan hadir pada acara silaturahmi dan penutupan sementara kegiatan majelis ilmu Rumah Qur’an Al Badr Jakarta, Februari 2026.
- Penutupan sementara halaqah majelis ilmu kelas dewasa akhwat
Sebagaimana majelis ilmu kelas Ikhwan dewasa ( remaja & bapak-bapak ), penutupan sementara majelis ilmu kelas akhwat dewasa ( ibu-ibu ) juga telah sukses diselenggarakan pada hari Rabu, 11 Februari 2026 ba’da Isya, bertempat di gedung sekretariat Rumah Qur’an Al Badr Jakarta.

Dalam kesempatan tersebut, peserta majelis ilmu kelas akhwat dewasa halaqah 1 ( halaqah malam ) berkesempatan untuk bertatap muka dan beramah-tamah dengan hadiraat tamu dari peserta kajian ibu-ibu yang dikelola secara mandiri oleh ustadzah Badriyah S.pd di kediaman nya.
Acara yang dihadiri oleh para peserta majelis ilmu khususnya akhwat dewasa tersebut diawali dengan pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan sesi tausiyah singkat yang dibawakan oleh Ustadzah Badriyah S.pd.
Setelah ramah tamah, acara berlanjut dengan sesi puncak, menikmati jamuan makan malam bersama yang kemudian dilanjutkan dengan penyerahan secara simbolis bingkisan Ramadhan untuk para guru pendidik yang mengajar di Rumah Qur’an Al Badr.

Dengan terselenggaranya rangkaian kegiatan pra Ramadhan berupa silaturahmi dan penutupan sementara majelis ilmu kelas dewasa, baik Ikhwan maupun akhwat tersebut, dapat diperoleh hikmah berharga berupa terselenggaranya momentum silaturahmi masyarakat sebagai media untuk mempererat persaudaraan antara sesama muslimin atau muslimah yang sama-sama sedang menimba ilmu Al Qur’an di Rumah Qur’an Al Badr.
Budaya ukhuwah dan kebersamaan inilah yang sangat patut untuk diharapkan dan dilestarikan, karena kebersamaan pada masa sekarang ini seolah-olah telah menjelma menjadi barang langka di tengah-tengah sikap ekslusif yang kian merebak di tengah kehidupan masyarakat modern, khususnya di lingkungan perkotaaan.





