Yayasan Pendidikan Islam dan Sosial Al Badr

Mutiara Hikmah

Redaksi website Rumah Qur’an Al Badr telah menyiapkan sebuah tulisan berupa ringkasan mutiara hikmah yang tema nya diangkat berdasarkan materi kajian tematik bersama ustadz DR. Musyaffa Ad Dariny pada hari Sabtu, 16 Agustus 2025 bertempat di masjid As Salam, Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.


Memaafkan, Pintu Ampunan dan Kebahagiaan.

  • Muqaddimah

Majelis-majelis ilmu adalah tempat istimewa yang disebut oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam sebagai taman-taman Surga.

Berawal dari majelis-majelis ilmu inilah seluruh masyarakat niscaya dapat mengetahui banyak hal dari perbendaharaan ilmu agama Islam, yang di dalamnya akan menerangkan hal-hal kebaikan agar dapat dilaksanakan di dalam keseharian, dan menerangkan pula hal-hal berupa keburukan agar semuanya dapat diketahui dan dihindari oleh setiap individu.

Maka bersemangatlah dalam menghadiri setiap kajian di majelis-majelis ilmu, karena majelis ilmu adalah waktu dan tempat yang dipenuhi dengan beragam kebaikan dan keberkahan.

Dokumentasi, narasumber Ustadz DR. Musyaffa Ad Dariny

  • Manfaat dari memaafkan kesalahan orang lain

Tema kajian pada kali ini adalah “memaafkan kesalahan orang lain”, merupakan tema yg sangat penting dan sangat baik untuk dipelajari, karena memaafkan kesalahan orang lain adalah termasuk ahlaq mulia yang sering dilupakan oleh kebanyakan orang.

Padahal apabila ditelusuri secara mendalam, banyak sekali manfaat yang akan diperoleh bilamana seseorang memiliki kelapangan hati dalam memaafkan kesalahan orang lain.

Beberapa manfaat penting tersebut diantaranya adalah :

  1. Memaafkan kesalahan orang lain akan menjadikan kehidupan seseorang menjadi jauh lebih ringan, hati menjadi lebih lapang karena terlepasnya beban negatif yang berada di dalam hati, sehingga dengan demikian hati akan menjadi lebih tentram. Dengan memaafkan kesalahan orang lain, maka rasa dendam yang bersemayam di dalam diri niscaya akan hilang sehingga hati pun akan menjadi tenang dan bahagia ( Sakinah ).

Hal tersebut sebagaimana telah diterangkan di dalam Al Qur’anul Karim surah Al Hijr, ayat ke 45 sampai 47 yang menggambarkan keadaan hati para penghuni Surga :

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

اِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِيْ جَنّٰتٍ وَّعُيُوْنٍ 

“Sesungguhnya orang yang bertakwa itu berada dalam surga-surga (taman-taman), dan (di dekat) mata air (yang mengalir).”

( Ayat 45 )

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

اُدْخُلُوْهَا بِسَلٰمٍ اٰمِنِيْنَ

“(Allah berfirman), “Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera dan aman.”

( Ayat 46 )

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَنَزَعْنَا مَا فِيْ صُدُوْرِهِمْ مِّنْ غِلٍّ اِخْوَا نًا عَلٰى سُرُرٍ مُّتَقٰبِلِيْنَ

“Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka; mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.”

( Ayat 47 )

Siapapun tak akan luput dari berbuat kesalahan, baik berupa kesalahan kecil maupun kesalahan besar yang semuanya dapat memicu rasa kecewa ataupun amarah dari orang lain di sekitarnya.

Rasa kecewa yang timbul sebagai akibat dari kesalahan yang dilakukan oleh seseorang baik sengaja maupun tidak disengaja tentu akan meninggalkan “luka di hati” dalam kadarnya yang ringan hingga berat.

Bilamana badan atau fisik seseorang dapat tersakiti oleh perbuatan orang lain, maka luka fisik tersebut masih bisa disembuhkan dengan metode pengobatan medis di pusat-pusat kesehatan masyarakat ataupun di rumah sakit.

Akan tetapi apabila hati seseorang yang tersakiti atau terluka oleh karena kesalahan yang dilakukan orang lain terhadapnya, maka dengan cara apakah luka hati tersebut bisa terobati ?

Cara dan jawaban yang terbaik tentu hanya dengan merelakan, melupakan atau memaafkan kesalahan orang lain tersebut.

  1. Dengan memaafkan kesalahan orang lain, akan mendapatkan kecintaan Allah. Hal ini sangatlah penting dan besar maknanya, karena kecintaan Allah adalah mutlak sangat dibutuhkan oleh setiap orang.

Dalam Al Qur’an terdapat firman Allah yang bermakna :

“Maafkanlah mereka dan janganlah di balas kesalahannya”.

Dan di akhir ayat adalah sebuah statement bahwasanya sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencintai Kebaikan.

  1. Dengan memaafkan kesalahan orang lain, niscaya akan terangkatlah derajat si pemberi maaf tersebut di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sehingga dengan sendirinya ia akan menjadi mulia.

Manusia yg paling mulia adalah manusia yg hatinya makhmum ( hati yg bersih ) dan jujur lisannya. Hatinya seseorang yang Makhmum adalah hati yg bersih yang tidak ada kotoran di dalamnya seperti rasa dengki, dendam dan hasad.

Dengan demikian, seseorang harus mempunyai sifat mudah memaafkan, sehingga tidak ada lagi tersimpan rasa dendam dan membuat hatinya menjadi bersih yang kelak akan menjadikannya sebagai manusia yang mulia di sisi Allah.

  1. Dengan memaafkan kesalahan orang lain, ia akan mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena terdapat sebuah kaidah :

“Al Jazaau min jinsil amal”

“Balasan semua amalan tergantung dari jenis amalan tersebut”.

Ketika seseorang memaafkan kesalahan orang lain, maka ia akan mendapatkan balasan dari Allah dengan dimaafkan kesalahan kesalahan nya oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَلَا يَأْتَلِ اُولُوا الْـفَضْلِ مِنْكُمْ وَا لسَّعَةِ اَنْ يُّؤْتُوْۤا اُولِى الْقُرْبٰى وَا لْمَسٰكِيْنَ وَا لْمُهٰجِرِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۖ وَلْيَـعْفُوْا وَلْيَـصْفَحُوْا ۗ اَ لَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَـكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(nya), orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

( QS. An-Nur : Ayat 22 )

Asbabun Nuzul / sejarah turunnya ayat tersebut adalah ketika Allah menegur sahabat nabi Shalallahu alaihi wasallam, yaitu Abu Bakr As Shiddiq Radhiallahu ‘anhu untuk tetap berbuat kebaikan kepada orang yang telah menyakiti dirinya dengan perbuatan dan perkataan dustanya.

Dalam praktiknya, memaafkan kesalahan orang lain memiliki pengertian tidak marah secara responsif dan tidak pula langsung menghukumnya, atau membalasnya atau dengan kata lain ia akan mengacuhkan kesalahan-kesalahan orang lain terhadapnya.

Kemudian ia akan melupakan kesalahan kesalahan orang lain sampai tidak ada bekas, dan menutupi kesalahannya seakan-akan hal tersebut tidak pernah terjadi.

Hal ini tidak akan bisa terwujud kecuali karena taufiq dari Allah yang telah memberikan kesabaran dan ketulusan di dalam hati seseorang untuk memaafkan kesalahan orang lain.

  1. Dengan memaafkan kesalahan orang lain akan membawa pahala yang sangat besar, bahkan tanpa batas ( unlimited ) dari amalan tersebut

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَجَزٰٓ ؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۚ فَمَنْ عَفَا وَاَ صْلَحَ فَاَ جْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik ( kepada orang yang berbuat jahat ) maka pahalanya dari Allah.

Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim.”

( QS. Asy-Syura : Ayat 40 )

Dalam ayat lainnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ اِنَّ ذٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْاُ مُوْرِ

“Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia.”

( QS. Asy-Syura : Ayat 43 )

  1. Memaafkan kesalahan orang lain adalah satu jalan menuju syurga.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَا لضَّرَّآءِ وَا لْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَا لْعَا فِيْنَ عَنِ النَّا سِ ۗ وَا للّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ 

“(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”

(QS. Ali ‘Imran : Ayat 134)

Sehingga atas dasar ayat tersebut, apabila seseorang berkenan untuk memaafkan kesalahan orang lain, maka jalan bagi si pemberi maaf tersebut untuk menuju ke surga akan semakin mudah dan luas.

  • Kisah keteladanan dalam memberikan maaf atas kesalahan orang lain

Kisah pertama yang dapat dijadikan teladan adalah pada saat Rasullullah shallallahu alaihi wassalam memaafkan pelaku pembunuh paman Rasulullah ( Hamzah ) dalam perang Uhud dengan memaafkan pelaku pembunuhan tersebut ketika orang tersebut bersedia masuk ke dalam agama Islam.

Kisah kedua yang juga dapat diambil pelajaran adalah ketika ada seorang dari kalangan Badui Arab yang masuk ke dalam masjid Nabawi di kota Madinah yang kemudian karena kejahilannya ( awam ) melakukan kesalahan besar yaitu kencing di area dalam masjid Nabawi.

Para sahabat yang ketika itu sangat marah kemudian melaporkan kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi wassalam dan hendak menghukum orang Arab Badui tersebut, akan tetapi dalam hal ini Rasulullah shalallahu alahi wassalam lebih memilih untuk memaafkan orang Arab Badui yang terkenal awam tersebut dan menjelaskan tentang kesucian masjid sebagai tempat ibadah.

  • Tehnik agar mudah memaafkan kesalahan orang lain

Di antara cara agar seseorang mudah dalam memaafkan kesalahan orang lain, adalah :

  1. Mengingat keutaman-keutamaan yang bisa didapatkan dengan memaafkan kesalahan orang lain.
  2. Harus disadari di dalam diri apabila di saat memaafkan kesalahan orang lain, kemudian muncul perasaan “rugi”. Padahal saat seseorang memaafkan kesalahan orang lain, niscaya ia akan mendapatkan manfaat yg sangat besar sekali.
  3. Ingatlah pula kalau ada seseorang yang melakukan kesalahan terhadap orang lain, ini sudah menjadi bagian dari takdir Allah atau Qodarullah.
  4. Meskipun memaafkan kesalahan seseorang merupakan amalan yang sangat mulia, akan tetapi terdapat di dalamnya beberapa catatan penting yang harus diperhatikan :
  • Beberapa aspek atau faktor yang perlu diperhatikan ketika hendak memaafkan kesalahan orang lain

  • Dalam sebuah permisalan dicontohkan, apabila pemberian maaf tidak akan membuat orang yang berbuat kesalahan berubah, bahkan malah akan semakin menjadi-jadi oleh karena adanya kesombongan, maka sudah sepantasnya memang harus ada orang yang layak untuk dihukum ( pidana atau perdata )
  • Memaafkan kesalahan orang lain tidak harus menjadikan keadaan atau kondisi relationship / pertemanan akan pulih lagi seperti sediakala untuk menghindari terjatuh di lubang kesalahan yg sama.
  • Memaafkan kesalahan orang lain tidak harus merelakan hak seseorang. Bilamana ada perjanjian muamalah seperti dalam hal hutang piutang, penanganan kasus pencurian, penipuan, ghasab, ataupun perusakan terhadap harta benda ( vandalisme ), dalam kondisi seperti ini kesalahan dapat saja dimaafkan, namun berdasarkan prinsip keadilan, hak-hak yang telah dirampas atau dicederai harus bisa diambil kembali atau dikembalikan seperti sediakala.

Semoga dapat diambil pelajaran dan hikmah yang berharga dan menjadikan Ilmu kita benar dan bermanfaat.

Aamiin Ya Robbal ‘Alamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »